--> Skip to main content

KEBINGUNGAN KITA DALAM MEMILIH JURUSAN


Bingung Memilih Jurusan?
Oleh: Muhammad Firyal Dzikri

Sekitar 2 bulanan kurang, PPDB atau Penerimaan Peserta Didik Baru yang biasanya dilaksanakan sekitar bulan Mei akhir hingga Juni pertengahan. Berbincang mengenai PPDB tak akan terlepas dari sekolah baru, yang kelas 6 SD akan melanjutkan ke kelas 7 SMP, kelas 9 SMP akan melanjutkan ke kelas 10 SMA atau SMK, dan seterusnya. Adapun, dalam tulisan kali ini saya akan membahas mengenai PPDB di tingkat SMA dan SMK, sebab ketika masuk SMA atau SMK inilah diberlakukannya sistem penjurusan sekolah yang dimana disesuaikan lewat bakat, minat dan potensi calon siswa. Di SMA sendiri kita mengenal penjurusan IPA, IPS dan Bahasa sedangkan di SMK seperti TKJ, RPL, Perhotelan, dan beragam jurusan lainnya.
Namun, tidak semua calon siswa memiliki kompetensi minat dan bakatnya dalam penjurusan di SMA atau SMK, saya sering mengobrol, berdiskusi maupun diminta memberikan solusi bagi teman-teman saya yang kebingungan dalam memilih jurusan, baik itu dari adik kelas, teman seangkatan maupun kakak kelas. Motifnya hampir sama, mereka bingung memilih jurusan apa, mereka merasa tidak memiliki potensi maupun bakat dalam jurusan tersebut bahkan ada yang sudah masuk suatu jurusan malah merasa salah masuk jurusan tersebut. Terdengar cukup aneh? Memang, tapi ini merupakan realita yang terjadi di tengah sistem pendidikan kita, fenomena tersebut bukan hanya menimpa kawan-kawan saya saja melainkan juga banyak siswa-siswi di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama, bingung dalam memilih jurusan.
Saya jadi tertarik dan kemudian terpantik untuk mempertanyakan permasalahan ini, mengapa ada banyak pelajar yang bingung dalam memilih jurusan, apa yang salah, lalu bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan bagaimana solusi dari permasalahan tersebut. Sekian lama saya mencari jawaban dari pertanyaan yang saya ajukan sendiri, seiring berjalannya waktu dengan banyaknya pengalaman yang saya dapatkan dan pelajari akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Mungkin kawan-kawan sekalian memiliki pendapat yang sama maupun berbeda dengan saya, jadi tidak ada salahnya untuk saling berdiskusi dan mentransfer wawasan serta pengalaman kita. Mungkin jawaban dari pertanyaan tersebut memang tidak disadari oleh saya, sebab itu merupakan suatu hal yang—dapat dikatakan—sangat fundamental sekali, jawabannya ada dalam pertanyaan.
Sebelum membahas dan menjawabnya, saya akan terlebih dahulu mengulas beberapa faktor dari permasalahan ini, yaitu mengapa banyak kasus pelajar kebingungan ketika akan atau sedang memilih jurusan. Saya sudah merumuskan setidaknya 5 faktor yang menyebabkan fenomena tersebut banyak terjadi. Adapun kelima faktor tersebut yaitu:

1. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan hal penting sekaligus yang pertama dalam proses pembentukan sifat serta karakter seseorang, sebab disinilah seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Dalam kasus ini, faktor keluarga yang contohnya tergolong dari yang dulunya alumni lulusan IPA, tentunya sering menekankan pada anaknya untuk sama mengikuti jejaknya yaitu masuk jurusan IPA. Padahal, anak tersebut masih bingung dengan jurusan tersebut dan bahkan ia merasa tidak cocok dengan jurusan tersebut. Sehingga timbul kebingungan ketika hendak memilih jurusan.
Memang tidak semua orang tua atau keluarga seperti itu, akan tetapi memang banyak tipe-tipe seperti itu yang menekankan kepada anaknya untuk sama mengambil jurusan yang sama dengannya, padahal bagi saya ini menyalahi logika dasar sebab tidak mungkin membandingkan serta menyamakan kondisi di zamannya dengan anaknya, di samping itu pun tentu ada perbedaan karakter serta keinginan. Karena hal itulah maka tak heran kasus kebingungan dalam memilih jurusan sering terjadi.

2. Faktor Lingkungan
Lingkungan sebagai media dalam pengembangan karakter dan sifat seseorang tentunya memiliki peranan besar, sebab dari faktor inilah lalu kemudian melahirkan berbagai pengalaman dalam hidup seseorang. Fenomena kebingungan dalam memilih jurusan pun setidaknya bisa disebabkan oleh faktor lingkungan. Contohnya seperti dalam lingkungan pergaulan yang dimana, teman-temannya banyak yang memilih jurusan IPS, sedangkan ia sejatinya ingin masuk jurusan IPA atau bahkan bingung memilih jurusan apa, namun karena merasa tidak (belum) "memiliki" teman, maka ia akan mengikuti arus dari lingkungannya yaitu memilih jurusan IPS yang bahkan sejak awal pun ia tidak minat atau masih bimbang namun karena ada faktor lingkungan dalam konteks pergaulan inilah maka ia memilih jurusan tersebut yang nantinya ia akan merasa bingung dan merasa tidak betah di jurusan tersebut.

3. Faktor Sistem
Dalam faktor ini sistem yang menyebabkan kebimbangangan dalam memilih jurusan. Sistem sebagai suatu komponen yang mengatur "kehidupan" seseorang memegang peranan penting. Faktor ini lebih bersifat eksternal karena seperti dalam zaman ini, zaman yang penuh dengan ketidakpastian dalam Revolusi Industri 4.0 ini tentu menekankan pada penguasaan terhadap teknologi dan akan ada banyak pekerjaan yang akan digantikan oleh robot. Hal ini menyebabkan pelajar merasa bingung, di satu sisi ia ingin memasuki jurusan tersebut akan tetapi bagaimana jika di masa depan nanti jurusan tersebut malah akan kalah bersaing dengan robot. Hal ini erat kaitannya dengan pesimisme dalam memandang jurusan tersebut yang merasa bahwa jurusan tersebut akan kalah bersaing dan tidak akan berguna lagi di masa depan, padahal hal tersebut tidaklah benar.

4. Faktor Diri Sendiri
Ini merupakan faktor internal sebab muncul karena diri sendiri yang merasa tidak memiliki kompetensi di jurusan manapun. Padahal diri sendiri memegang peranan penting dalam memutuskan suatu keputusan, meskipun sudah banyak diberi saran tapi jika diri sendiri masih "kekeuh" dengan pemikiran "status quo" nya maka saran tersebut hanya akan menjadi angin yang berhembus begitu saja—semoga tulisan ini pun tidak menjadi angin tersebut hahah—jadi, mengenali diri sendiri merupakan hal yang teramat sangat penting sekali. Bahkan, filsuf dari Yunani yang terkenal, Socrates pernah mengatakan untuk mengenal dirimu sendiri.
Diri sendiri ibarat kunci bagi kotak pandora, diri sendiri yang akan menentukan karir dan masa depanmu, jika seandainya tidak mengenal diri sendiri maka tidak akan mengenal dunia secara sepenuhnya sebab diri sendiri yang akan mengantarkan dirimu pada gerbang dunia yang luas.

5. Faktor Kurangnya Mempertanyakan & Menjawab Hal yang Fundamental

Nahh, inilah hal yang sangat-sangat dasar, hal yang sangat-sangat fundamental sekali yang sering tidak disadari oleh setiap orang, termasuk diri saya sendiri. Faktor diri sendiri seperti yang telah saya bicarakan di atas, memiliki kaitan yang erat dengan faktor ini. Kita cenderung memilih suatu hal atau memutuskan suatu perkara hanya mengikuti arus saja tanpa berpikir panjang bagaimana dampak kedepannya atau bahkan tidak pernah bertanya mengapa memilih pilihan tersebut, inilah hal yang fundamental itu yaitu bertanya kepada hal dasar.
Dalam hal ini erat kaitannya dengan metode filsafat yaitu bertanya dan menemukan jawaban atas segala persoalan yang tengah melanda, menurut Ludwig Wittgenstein bahwa filsafat diawali dengan sebuah pertanyaan dan disinilah pentingnya sebuah pertanyaan yang teramat fundamental dalam menentukan sebuah pilihan. Filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu setidaknya dapat memberikan suatu kerangka penjelasan dalam membantu menjawab kebingungan kita dalam memilih jurusan lewat sebuah pertanyaan yang mendasar.
Sebelum kita memilih suatu jurusan tentunya kita sering melakukan semacam stigmatisasi seperti mengatakan bahwa jurusan IPA lebih unggul dibanding dengan jurusan IPS, atau jurusan di SMK lebih unggul dibandingkan dengan jurusan di SMA padahal sebelum melakukan perbandingan tersebut ada baiknya kita bertanya seperti:
“Apa itu belajar?” itulah sebuah pertanyaan yang fundamental, ketika kita berhasil menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut seperti contohnya “Belajar merupakan sebuah aktivitas dalam rangka menambah wawasan kita” lalu tanya lagi “Mengapa kita membutuhkan wawasan?” ketika menemukan jawaban seperti “Karena untuk mendapatkan pengalaman serta kecerdasan” lalu tanya lagi “Apa yang dimaksud dengan pengalaman dan bagaimana ia dapat mempengaruhi kecerdasan?” dan jawab lagi hingga pada suatu titik muncul sebuah pertanyaan “Apa jurusan itu?” atau “Mengapa saya memilih jurusan ini?” dan berbagai pertanyaan mendasar lainnya.
Mungkin hal tersebut malah membingungkan kita, faktanya memang seperti itu karena kita tidak terbiasa mempertanyakan dan menjawab hal-hal mendasar sehingga kita akan bingung ketika dihadapkan pada hal yang mendasar, karena kebingungan dan ketidaktahuan terhadap yang mendasar itulah menyebabkan kita bingung ketika dihadapkan dengan hal yang lebih besar dan kompleks seperti dalam kasus ini memilih jurusan.
Mengapa harus diawali dengan bertanya mengenai belajar? Sebab belajar merupakan hal pertama sebelum kita mengenal jurusan, dengan mengetahui apa itu belajar maka kita dapat lebih bijak lagi dalam menentukan arah tujuan kita akan kemana.
Dan, akhir kata terima kasih. Semoga tulisan singkat saya ini dapat memberikan solusi serta pencerahan kepada kita semua dalam memilih jurusan dengan pertama kali mempertanyakan hal mendasar sebab hal mendasar itu diibaratkan sebagai pondasi suatu bangunan.



Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar